Hasil UN 2008 menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat dan rakyat Indonesia. Bagaimana tidak?! Kontroversi dari tahun ke tahun mendera dan tak lepas dari perhelatan akbar ini. Paling tidak, tahun ini sudah membuat banyak siswa stress kalang kabut dengan enam mata pelajaran yang diujikan.
Pengalaman April 2008 kemarin, menjaga ujian nasional tak sesulit menjaga ujian sekolah biasa. Bisa dikata sama saja bahkan mungkin lebih mudah. Ketakutan siswa menjadi modal awal untuk lebih mudah mengontrol ruangan, dengan sekali lirikan, siswa sudah paham akan maknanya. Tapi, apakah selamanya demikian? Ternyata tidak! Justeru ketakutan itu menjadi masalah bagi pengawas. Segala daya dan upaya dlakukan oleh siswa untuk mencapai kelulusan. Dari cara paling klasik hingga cara paling terkini. Tergantung dari pengawas, apakah sempat beradaptasi sehingga mengerti teknik terkini dalam mendeteksi siswa atau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu atau memang sengaja benar-benar cuek.
Kepedulian pengawas akan tugasnya sangat menentukan hasil pencapaian siswa dalam ujian nasional. Bisa jadi kebanyakan siswa tak lulus jika pengawas melaksanakan tugasnya dengan benar dan sesuai dengan juknis yang ada. Sebaliknya, jika pengawas tak serius, bisa jadi sebagian besar lulus. Meski peran mereka tak seratus persen menentukan kelulusan. Kembali pada siswa selaku subyek yang mengerjakan ujian.
Melihat persyaratan Ujian Nasional tahun ini, sepertinya lebih banyak memberi kemungkinan buruk akan terjadi. Misal, tidak lulusnya siswa tahun ini akan lebih banyak dari tahun kemarin. Bisa dimaklumi jika alat ukur yang dipakai adalah bertambahnya jumlah mata pelajaran yang diprediksi akan menyumbang angka ketidaklulusan yang tinggi di samping rata-rata yang meningkat dari pada tahun lalu.
Meski ikut merasakan kecemasan yang dialami oleh siswa, saya pribadi berharap, semua bisa lulus sesuai dengan apa yang memang telah mereka upayakan. Tidak ada kejadian buruk yang mengakibatkan dunia ini lantas kiamat. Naudzubillah. Mudah-mudahan bangsa ini dikarunia pengertian dan kesabaran yang lebih lagi akan hakikat pendidikan yang bermuara pada-Nya. Karena semua ilmu adalah milik-Nya.