Zakka Alfata Nastra Azzura Friendster Gempur Blogspot Gempur Wordpress Gempur Multiply Gempur
Testimoni Saran Konsultasi
Login Register
Komunitas Blogger SMAN 11 Sby Komunitas Blogger Surabaya

saya juga aktif di blog aghofur.com

November 30, 2007

Untuk Sang Kenangan [bag.3]

Filed under: Menyambut Hujan - gempur @ 16:56

[Episode: Hari Tercerah di Musim Penghujan]

Mendung masih saja menggelayut, butir-butir air menetes jatuh dari langit, aku dan kau duduk di beranda. Duduk di bawah beralas tikar. Semilir angin dingin menyentuh dan membelai tubuh kita.  Kunikmati secangkir kopi untuk sekedar menghangatkan tubuh dan mengurangi galaunya hati dan jantung yang berdegup kencang.

Ternyata aku salah besar. Kopi buatanmu semakin memompa detak jantungku. Aku gelisah malu dan salah tingkah di hadapanmu. Kau begitu tenang, bahkan tanpa ekspresi.

Satu tujuanku mendatangimu kala itu, ingin kukatakan padamu bahwa aku sangat mencintaimu.

Tapi, sepertinya engkau sudah tau maksud kedatanganku. Engkau tetap seperti biasa menerimaku tanpa perubahan yang mencolok, tak seperti diriku yang salah tingkah dan gelisah. Sebentar selonjorkan kaki, sebentar kemudian bersila kembali, kadang seperti orang nyangkruk atau ngangkring, sementara kau hanya tersenyum *mungkin geli * melihatku.

Masih ingatkah kau?! Ketika hendak kukatakan cinta yang keluar dari lubuk hati terdalamku, kukatakan: “Akuuu.. emmhh…”, dalam keraguan dan ketakutan tertolak, sesuatu menyengat tenggorokanku. Mungkin wajahku pucat pasi di depannya, keringat dingin mulai membasahi krah bajuku. Aku coba teruskan kalimatku, mataku seperti memelas menyampaikan pesan rahasia yang tak terungkap, entah, tiba-tiba kau tegakkan telunjukmu di depan bibirku dan kau katakan dalam lirih: “Aku sudah tau. Jangan mencederainya dengan mengatakannya!…. Cukup kita rasakan dan biarlah ia mengalir mengisi hari-hari pendek yang kita miliki…. Percayalah, aku mengerti betul apa yang kau dan aku rasakan, tak perlu kau katakan. Aku takut kita tak mampu menyangganya!… Aku menerimamu apa adanya sebagaimana dirimu menerimaku selama ini..”

Entah dorongan dari mana, jantungku seperti berhenti berdetak, aku merasa melesat menembus mega-mega, terbang di gumpalan awan dan akhirnya jatuh tersungkur, sujud di atasnya. Benar-benar dunia dalam genggamanku. Lemas sudah seluruh persendianku, kelegaaan, keluasan memenuhi ruang hatiku. Aku terkulai bersandar dinding menatap sungging senyum di ujung bibirmu.

Sekali lagi, aku tenggelam dalam pesona kearifanmu.

Hari-hari setelah itu sungguh hari-hari yang paling membahagiakan untuk kita berdua, dengannya kita mampu menepis semua derita. Kita habiskan waktu-waktu dengan diskusi dan canda. Kita bicara cinta, dari Plato hingga tragedi Kahlil Gibran. Kurasakan kekuatan pikiranmu di sela lembutnya rasa dan garis tegas pemisah antara kau dan gadis seusiamu. Aku tenggelam dalam cintamu.

Kita mendiskusikan bagaimana Shakespeare dengan ’hamlet-nya menyihir eropa. Engkau masih sejalan denganku. Tapi, aku begitu terkejut, kulihat tatapan sinismu saat kuceritakan jalan cinta Romeo dan Juliet. Kudengar dengan jelas komentar singkatmu. “Sampah!”. Aku tersentak kaget, bagaimana mungkin seorang yang kukenal begitu arif dan bijak serta dewasa sepertinya mengeluarkan kata-kata sinis dan pedas. Bagiku sangat menusuk, kukatakan padanya: “Maksudmu?!” Kulihat bibirmu lirih mengatakannya, “Entahlah, aku merasa sangat picisan cintanya, perjuangannya layak mendapat pujian dan hujan air mata sedunia, tapi, untuk endingnya, kurasa terlalu naif, sayang perjuangan seberat itu harus diakhiri dengan kebodohan”.
“Tidakkah kau melawan arus dunia?” aku menyela.
“Peduli apa pada pandangan dunia tentang pendapatku, aku setuju atau menolak atau simpati tak ada pengaruhnya. Percayalah, tak ada resiko melawan mainstream dalam hal ini.” Katanya dengan penuh santun dan bijak.

Aku semakin kagum padamu, capek bicara shakespeare, kita bicara tentang filsafat keindahan milik M.Iqbal, sastrawan pakistan yang heboh dengan paham bersatunya India dan Pakistan, tak jauh darinya, kita bicara Rabindranath Tagore dengan Gitanjali-nya. Ah, kau sungguh teman bicara dan diskusi yang luar biasa, bukan hanya karena cintaku padamu, tapi, luasnya wawasanmu membuatku mengukuhkan diri sebagai pangeran paling bahagia di dunia.

Aku tenggelam dalam lautan cinta
Aku mabuk asmara luar biasa

Engkau meninggalkan selaksa keindahan, pesona dan keagungan…
Aku menunggumu dalam hujan…

[bersambung]

 

Untuk Sang Kenangan [bag.2]  -   Untuk Sang Kenangan [bag.1] 

November 6, 2007

Untuk Sang Kenangan [bag.2]

Filed under: Menyambut Hujan - gempur @ 15:10

Hari-hari terasa suram tertutup mendung. Hujan mengguyur, menggulung semangat,  berganti sayunya matamu. Aku menatapmu dalam ragu. Ingin kumemelukmu untuk sekadar sedikit saja mengambil beban berat di pundakmu, tapi, aku hanya membisu batu menikmati isakmu.. Aku terbelenggu norma..

Kau habiskan waktu bertutur episode demi episode kepedihan bahkan kengerian yang mengiringi perjalanan hidupmu. Kau ceritakan dengan sungging senyum berlinang air mata. Hatiku bergejolak bergelora tak tentu rasa. Aku tertikam gelisah!! Tak tahu mesti berbuat apa!

Kau buka babak tragedi yang menguras habis pikiran dan hatimu yang hanya menghasilkan kepenatan dan putus asa akan hidup. Tapi, kau tetap setegar gunung meski gejolak di dalam dada siap memuntahkan api amarah yang meluluhlantakkan sekelilingmu.

Hingga kau cerita tentang satu kisah yang mengoyak habis hidupmu, yang hampir membuatmu terbunuh dalam sedih tiada tepi. Egoku terusik tersentak membuncah merajalela! Namun, ikhlasmu memasungku dalam gelisah tiada tara sekaligus menamparku dari ketaksadaran dan membekaliku dengan senjata terampuh untuk melawan! Aku tak tahan, aku tak tahan mendengarnya! Kuraih wajah mungilmu, kutatap matamu yang basah berderai deras air mata.

Aku tegak dalam amarah mengundang bencana. Sementara, tangan kecilmu memegang erat kakiku, dalam isakmu, kau berkata: “Jangan mengotori perjuanganku dengan amarahmu, jangan kau hapus pengorbananku dengan murka sesaatmu, aku ikhlas untuk ini semua”…

Perlahan amarahku mereda berganti tanda tanya mengapa. Aku tak berdaya, aku terduduk dalam diam, rangkaian kata dari mulutmu meluncur tak terbendung bernada nestapa. Hujan semakin deras, tangismu semakin kencang, tubuhku berguncang hebat, dukamu tak tertanggungkan dalam diamku, meledakkan tangis kepedihan dan ketakberdayaan luar biasa.

Tangis kita lebur bersama derasnya hujan..

………………………
………………………
………………………

Kekasihku, begitu banyak yang kita alami dalam singkatnya pertemuan kita.. begitu banyak kenangan tertinggal yang sungguh bermakna. Dalam hujan kita mengikat kenangan dalam-dalam. Hanya semusim kita menghabiskan semuanya.

Engkau meninggalkan selaksa keindahan, pesona dan keagungan…

Aku menunggumu dalam hujan…

[bersambung] 

October 24, 2007

Untuk Sang Kenangan

Filed under: Menyambut Hujan - gempur @ 1:17

Hujan pertama pertanda musim penghujan hadir mengguyur malam yang memang terasa panas. Bau tanah basah hujan menyeruak masuk kamar. Kukeluar menatap langit yang gelap mengelabu. Samar titik rintik hujan yang agak deras tersorot lampu kampung yang temaram.

Aku hirup sedalamnya bau tanah. Kusambut ia seperti kusambut kekasihku yang lama tak sua. Kupeluk sekuatnya kenangan yang hanya akan kembali keindahannya bersama hujan. Aromanya selalu dan akan terus setiap tahun membangkitkan kenangan indahku bersamanya.

Padamu yang berlalu dalam hujan, kutulis ini untuk mengenangmu.

Kekasihku, meski tak pernah kupanggil kau dengan sebutan itu baik lisan maupun tulisan, kau tetap kekasihku. Kita memang tak pernah mengikrarkan diri sebagai pasangan yang memadu kasih, tapi hatiku lantang meneriakkannya dalam sunyi. Kita sejatinya tak pernah memproklamasikan diri seperti pasangan lain mengekspresikannya. Tapi, seluruh hatiku melantunkan senandung asmara rahasia, kutujukan padamu.

Aku engkau tak pernah mengakui lewat ucapan bahwa kita saling mencintai. Karena kita tak pernah memiliki keberanian untuk mendefinisikan perasaan kita. Yang kita lakukan hanya saling peduli, saling berbagi dan saling menjaga. Masih ingatkah perjumpaan pertama kita? Lantas sedemikian intensnya pertemuan berikutnya yang kita habiskan dalam diskusi, canda juga tangis. Ah, betapa naifnya aku, tatkala kau berlari menangis lantas menabrak dan memelukku di depan banyak orang sementara aku diam tanpa kata. Aku memang tak tau harus berbuat apa. Karena kali pertama aku dipeluk wanita yang sejujurnya pantang kulakukan.

Dan, hingga perpisahan datang, satu pun tak keluar dari mulutmu kata cinta. Kau hanya tersenyum getir tanpa berani memelukku. Hanya butiran kaca mulai menggenang di sudut matamu. Pun juga aku. Dalam canda tak lucu yang kau lontarkan bersama lambaian tanganmu makin menghunjam jantungku. Haruku tak terbendung, dalam kembaliku, tangisku meledak di sunyinya jalan.

Engkau meninggalkan selaksa keindahan, pesona dan keagungan…

Aku menunggumu dalam hujan…

[bersambung]

    

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph