Zakka Alfata Nastra Azzura Friendster Gempur Blogspot Gempur Wordpress Gempur Multiply Gempur
Testimoni Saran Konsultasi
Login Register
Komunitas Blogger SMAN 11 Sby Komunitas Blogger Surabaya

saya juga aktif di blog aghofur.com

December 25, 2007

BALADA ISA TERASING TERPENJARA

Filed under: Sajak Gelap - gempur @ 1:12

BALADA ISA TERASING TERPENJARA

Selalu saja ia tertikam gelisah
Detik-detik yang semestinya biasa
Menjadi tak terarah dan bermakna salah
Kerumunan berarak-arak memadati kota, desa, lembah, ngarai, gunung
Bagai domba-domba gembala Isa berlarian tak terarah
Memadati pada liar.
Bunyi bersahutan memenuhi udara.

Isa tertegun gulana,

Merasakan salib-salib mematung diri.
Beranjak dari singgasana keabadian. Isa turun
Membongkar bongkah batu kuburnya.
Tangan kurusnya bergetar menahan luka.
Menggali tetes-tetes darah air mata pengikutnya

Isa terpanjat terpana,

Tubuhnya lenyap entah ke mana
Tetes darah air mata lenyap tanpa sisa.

Dalam pedih, Isa yang lembut bercahaya
Berkelana mengembara
Di persembunyian
Di keramaian kerumunan
Di kota
Di desa

Tak jua dijumpainya, diri dan sahabat-sahabatnya
Lelah tanpa daya

Setengah meratap, Isa berdo’a meminta:
Tuhan, telah kulalui permukaan bumi, tak kunjung kujumpai diri dan sahabat-sahabatku
Tuhan, aku lelah tak berdaya
Hamba-Mu yang lemah ini dilanda risau gundah
Tuhan, aku mohon kepada-Mu
Kembalikan kekuatanku, sempurnakan titah-Mu
Tuhan, beri aku semangat pencarian Ibrahim
Karuniai aku kesabaran Nuh
Bekali aku dialektika Musa
Sertakan bersamaku Nur Muhammad
Tuhan, kabulkanlah permohonanku

Setelah berdo’a, Isa keluar goa
Menyebar do’a segala penjuru
Cahaya menyelubungi tubuh rapuh
Wajah sayu itu tenang anggun.

Semesta khusuk menyertainya
Lautan dzikir menjunjungnya

Halilintar menyambar menggelegar bersahutan
Suasana berubah mencekam.

Bumi yang tua dan lelah, bangkit penuh harap bangga
Setelah penantian panjang menanggung derita dosa manusia
Bergetar menggetar sukma.

Samudera bergelora menambatkan beban mengumbar kekuatan
Tak tahan menuntaskan peradaban

Badai meliuk-liuk menebar bencana
Berdesis menyapu semua yang ada….

Isa berteriak menyela..
Kaget ia, kerongkongannya kering

Raja api menyala menyaliukannya
Bersungut-sungut menahan marah
Kecewa karena keterlambatannya

Isa terdiam dengan wibawa
Suasana berubah hening, dalam hati, Isa bergumam lirih, ”gerangan apakah ini?”
Tongkat gembalanya ia angkat tak terlalu tinggi, sabdanya:

Saudara-saudaraku, terima kasih atas keikhlasanmu
Aku menangkap kepedihan kalian. Tapi, ini belum waktunya saudaraku, beristighfarlah, tahanlah diri kalian. Tuhan masih menghendaki kesabaran kalian.
Endapkan amarah kalian.
Saudaraku, aku akan sangat malu pada Muhammad jika kalian turun tangan
Saudaraku, beri aku kesempatan menebus hutangku pada Muhammad.
Untuk itu bantu aku menemukan sahabat-sahabatku

Menyahut suara di belakang Isa:
Kami di sini, di belakangmu Kanjeng Nabi.”

Sejenak keajaiban menyelimuti Isa sembari memuji Allah.
Suara-suara itu menyentak kesadaran Isa kembali:
Bumi memuntahkan kami dari persembunyian,
Udara merangkum ruh kami dan memberi nafas kami,
Samudera mengalirkan darah kami dan
Api mengobarkan semangat kami.

Lega dada Isa lalu berkata:
Terima kasih, sahabat-sahabatku telah kembali atas bantuan kalian,
sekarang kembalilah. Tenang dan sabarlah kalian.
Tunggulah titah Tuhan

Mematuhi Isa, keempatnya beranjak pergi
Dengan pedih, bumi pergi menanggung perih
Samudera tenang menyimpan kekuatan dibayang kengerian
Badai menyemilir sepi ke angkasa mengawan duka
Menggerutu api menyala membara mengandung amarah tak tertumpah

Di tengah padang, di keheningan malam
Isa menghadirkan wajahnya, beserta sahabat-sahabatnya kembali dirundung duka dunia

Ah, Isa, engkau masih saja terasing terpenjara

Perlahan mereka bangkit menembus keremangan
Membawa titah mengembalikan domba gembala ke padang cahaya

Memasuki kota
Kerumunan ada di mana-mana
Bayangan masa lalunya hadir, tiba-tiba ia merasa menuju tiang salib.
Kerumunan itu mencibirnya, melontarinya dengan serapah dan ludah.
Menggiringnya ke tengah.

Isa mencoba tersadar, namun kerumunan itu makin membesar dan menggila
Lebih dahsyat dari sebelumnya.
Menginjak-injak harga diri dan ajarannya.
Bahkan tongkat Musa sia-sia belaka.

Mencoba kembali ia serukan keabadian.
Hampa menerpa. Persis sama di awal kerasulannya. Penyaliban pertama.
Berulangkali dan berulangkali, datang untuk dicampakkan.

Semakin pilu dan malu ia menjauh
Tangis bumi mengiringi ke persumbunyiannya
Domba-domba gembalanya bertebaran kehilangan arah

Tertunduk Isa memeluk sepi
Sebab sahabatnya pun terpaku perih
Memarau suaranya, menyelami keluhnya lidah
Menyeka linangan air mata

Teringat olehnya kerabat dekat penyangga derita
Kusta kehidupan masih saja ada
Si buta dan miskin yang tertindas masih saja tertatih menjunjung bejana

Tegur sapa sejuk terlontar
Menyusup kerinduan kehangatan membayang….
Diam tak bergeming.
”Oh, Tuhan. Bencana apa ni? Apa memang sudah tiba waktunya?”
Tak satupun mengenalnya, tak satupun menghiraukannya.
Luluh hancur, mengapung di kesunyian.

Penyaliban kedua terasa menghunjam
Kembali Isa ke gua persembunyian. Ia pilu malu
Isa terasing….. Isa terpenjara….
Tersalib sepi
Tersalib sunyi
Tersalib duka
Tersalib nestapa tak terkira

Bumi menggetar menahan tangis
Badai gelisah menyimpan duka
Samudera bergejolak menyangga kekuatan kepedihan
Api berkobar menyala menahan amarah
Mereka…………
Menunggu titah ……………..

Condongcatur, 31 Desember 1999 – 1 Januari 2000

30 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://gempur.blogsome.com/2007/12/25/balada-isa-terasing-terpenjara/trackback/

  1. Kurt berkata:

    Kalau boleh tahu ini tentang Penyaliban Isa yah… Tapi yang dimaksud Isa itu sang Jesus Kristus?
    Maaf kalau salah..

    Yaa kalau benar ada sesuatu di balik makna2 tayangan naskah operete itu heheh … saya mengerti tapi tidak saya masukkan .. halah
    Cara pengungkapan yang tidak biasa… tapi khas Gempur

    — December 25, 2007 @ 22:12


  2. Kurt berkata:

    asik vertamax… :)

    — December 25, 2007 @ 22:39


  3. gempur berkata:

    @ Pak Kurt: Ini hanya bentuk manifestasi saya untuk kemanusiaan tanpa mengurangi hak-hak Tuhan. Tentang Isa dalam sajak di atas, monggo terserah pak Kurt menganggapnya siapa. ;-)

    Tak lupa saya ucapkan, selamat menikmati pertamax.. hehehehehe

    — December 25, 2007 @ 22:40


  4. andi bagus berkata:

    aku melu melu wae sik mas..tak pahami sek..

    — December 25, 2007 @ 23:58


  5. gi3 berkata:

    ????????????????
    Pak ceritanya gmn sech???
    q kok gak nyambung. :P

    — December 26, 2007 @ 7:09


  6. gempur berkata:

    @ andi bagus: nggih monggo…!
    @ gi3: benerin dulu tali yang putus, ntar baru nyambung.. hehehehe

    — December 26, 2007 @ 7:44


  7. ayahshiva berkata:

    itu tulisan sendiri apa ngambil dari buku lain

    — December 26, 2007 @ 10:36


  8. gempur berkata:

    @ ayahshiva: tulisan saya sendiri mas ari! emangnya kenapa? menakutkan? hehehehehe..

    — December 26, 2007 @ 11:25


  9. Praditya berkata:

    Yg kupikirkan sama seperti Kurt…

    — December 26, 2007 @ 11:55


  10. gempur berkata:

    @ Praditya: nggih pak, jawaban saya masih sama seperti di atas, monggo erserah panjenengan mau diartikan siapa.. matur nuwun..

    — December 26, 2007 @ 12:22


  11. dodot berkata:

    waduh panjang banget tuch puisi ampe gua kagak ngerti. but still have a nice message

    — December 26, 2007 @ 13:25


  12. alief berkata:

    bingung memahaminya… :)

    — December 26, 2007 @ 14:31


  13. tu2t berkata:

    wah.. dalem.. dan rumit…
    berhubung saya lagi pusing.. jadi lom bisa mencerna.. maaf yah pak :D

    by the way.. salam kenal :D

    — December 26, 2007 @ 14:39


  14. gempur berkata:

    @ dodot: alhamdulillah kalo message-nya nyampe.. ;-)
    @ alief: sama mas, saya juga bingung! ;-)
    @ tu2t: minum obat dulu mbak kalo pusing…! ;-)

    — December 26, 2007 @ 15:08


  15. nico kurnianto berkata:

    hm…puisinya keren dan memiliki makna yang dalam

    — December 26, 2007 @ 16:28


  16. sawali tuhusetya berkata:

    Gagal juga nih komen vertamax, malah sudah ke urutan sekian nyesel jugak
    Balada, sebuah bentuk teks sastra yang amat tepat untuk menggambarkan sebuah tragedi nilai-nilai kemanusiaan. Saya jadi membayangkan deita Isa yang tersalib di tengah kemrumunan orang-orang yang tak pernah merasa dirinya berdosa. Kisah universal ini tampaknya tak cukup diapresiasi oleh umat kristiani, tapi juga oleh mereka yang peduli akan nilai-nilai kemanusiaan. Mudah2an penyaliban Isa menjadi halah sok tahu nih pelajaran berharga bagaimana kita seharusnya mengapresiasi nilai2 kemanusiaan, terlepas dari keyakinan yang diimaninya.

    — December 26, 2007 @ 22:45


  17. de berkata:

    waduh aku komen opo ki? apik mas (sok tahu) btw kok baru di posting sekarang? nulise wes 7 th kepungkur. eh ngerti bahasa jawa ngga sih hahahaha..

    — December 27, 2007 @ 5:41


  18. gempur berkata:

    @ Nico: eh mas, lama gak ketemu yak! kapan2 kopdar lagi yuk!
    @ Sawali: pertamax dikulak pak Kurt.. hehehehe.. nggih, pak. mudah2an ‘prosesi penyaliban’ itu benar2 bermakna bagi manusia dan kemanusiaan..
    @ de: hehehe, makasih mbak dah mau mampir.. ini postingan emang lama banget, waktu masih tinggal di djogdja.. dulu belum ada blog jadi gak sempat mempublikasikannya.. jugak baru ketemu tulisan aslinya di antara arsip lama.. ;-)

    — December 27, 2007 @ 6:52


  19. rizky berkata:

    saya sebenernya tau gaya penulisan model kayak gini
    jadi inget waktu baca kahl gibran “risalah cinta”
    makkkkkkkknyyyyyuuussssssss

    — December 27, 2007 @ 20:35


  20. gempur berkata:

    @ Rizky: wah, pengagum gibran ya?! ;-)

    — December 27, 2007 @ 23:15


  21. veron berkata:

    maksudnya apa seh pak???????????

    apa ada hub sama agamaku y?????????

    — December 28, 2007 @ 11:21


  22. ridu berkata:

    Semua orang pada jago sastra yah.. kayaknya ridu aja deh yang cupu!!

    — December 28, 2007 @ 11:23


  23. Gempur berkata:

    @ veron: kaitannya ada..! gak ngerti? sama dong?! hehehehe
    @ ridu: halah, wong cuman bermain kata-kata aja kok mas!

    — December 28, 2007 @ 13:29


  24. deemsz berkata:

    itu apaan pak????

    — December 28, 2007 @ 14:25


  25. deemsz berkata:

    apa maksudnya pak???aku ga ngerti!!

    — December 28, 2007 @ 14:28


  26. bedh berkata:

    huhuhuhu
    saya sudah tertipu di rumah saya.
    kewl…..

    gimana kalau isanya ternyata tidak dipenjara tapi yang diluar selain dia yang terpenjara? cuma sayang penjaranya terlalu besar sampe nggak nyadar batas dindingnya sebelah mana. huhuhuhu

    tanah, angin, air, api menunggu titah?
    hmmmm…
    ihh, serem jadi takut..

    — December 28, 2007 @ 14:40


  27. gempur berkata:

    @ Deemsz: sama, saya juga gak mudeng!
    @ bedh: saya tak bermaksud menipu lhhooo.. sepakat, berhubung di luar dirinya tak merasa terpenjara, jadinya, Isa sendiri yang terpenjara.. kira2 demikian.. bisa ya bisa tidak.. ehhmm, bingung..

    — December 28, 2007 @ 15:42


  28. the reader berkata:

    Saudaraku, aku akan sangat malu pada Muhammad jika kalian turun tangan
    Saudaraku, beri aku kesempatan menebus hutangku pada Muhammad.
    Untuk itu bantu aku menemukan sahabat-sahabatku.

    Pak, masa’ Isa itu ada setelah Nabi Muhammad. Opini baru nich..

    ”Oh, Tuhan. Bencana apa ni? Apa memang sudah tiba waktunya?”

    Pak, menurut orang Kristiani kan Isa=Jesus Kristus=Tuhan.
    Masa’ Tuhan panggil Tuhan..??
    Capek dech…

    — December 28, 2007 @ 19:58


  29. hanna berkata:

    bapak,,,aku emang selalu bernasib pemberi komentar teakhir untuk blog sampean…hehehehe,,,

    jujur, aku ngeprint puisi itu dulu,,dan masih tak simpan…
    dan aku masih penasaran dan sama sekali tak puas dengan pemahaman yang aku dapet sendiri…
    aku tahu ada sketsa yang ditoreh lebih dalam dari puisi itu…

    dan sampai sekarang…
    ....still confuse…

    — January 4, 2008 @ 20:09


  30. gempur berkata:

    @ Hanna: Ada latar mistis yang menjadikan saya bersemangat menuliskannya.. Belum sempat kuceritakan padamu.. nanti kalo ketemu tolong saya diingatkan.. hehehehehe

    — January 4, 2008 @ 20:18


RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


    

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph